29 April 2004

Dia yang Terombang-ambing




Oleh Zulkifli Al-Humami
____________________


Nidah tirani sepertinya bergaris tangan nahas. Ibarat lolos dari cengkraman harimau ia kemudian terpeleset jatuh ke mulut buaya. Dan kini, hidupnya teramat tragis. Kisah nahas itu ia tuturkan bagaikan sebuah reportase jurnalis kepada Muhidin M. Dahlan, seorang yang dulu kerap berdebat dengannya ihwal negara Islam. Dari tangan dingin sahabatnya itulah lahir karya ini: Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur: Memoar Luka Seorang Muslimah.

Buku ini bukan sekadar novel, meski ia bertutur dengan langgam cerita sastra. Ia adalah reportoar sebuah kisah nyata, sebuah lensa yang merekam babak perjalanan hidup perempuan Muslimah yang beralur dramatis, juga tragis: kisahnya sebagai juru dakwah harus berujung pada pilihan untuk melacurkan moralitas, tersebab kecewa.

Buku ini menyibak drama pemberontakan seorang manusia terhadap narasi-narasi agung yang dinilai sakral: Tuhan, institusi agama, moralitas, keadilan gender, dan hegemoni partiarkhisme. Tapi, sebab apakah ia memberontak terhadap narasi-narasi agung itu?

Nidah Kirani mulanya seorang Muslimah yang taat agama. Seluruh waktunya ia habiskan untuk merengkuh kasih dan sayang Tuhan, juga hangat cinta-Nya. Tak ada aktifitas hidup yang lebih berharga selain ibadah, merenungi pesan-pesan Kitab Suci, dan berzikir lantun kepada-Nya. Pendek kata, religiusitas adalah kembang hidupnya.

Cita-citanya sungguh mulia: menjadi seorang Muslimah yang mampu menjalankan ajaran agama secara kaffah. Ia memilih jalan dakwah menegakkan hukum Tuhan di bumi pertiwi. Demi cita-cita itu, ia lalu melibatkan diri secara total dalam aktivisme Islam politik. Sebuah Jamaah dengan cita-cita luhur mendirikan Daulah Islamiyah di Indonesia digelutinya.

Tapi aneh, baru beberapa waktu bergelut dalam Jamaah suci itu, ia sudah merasakan banyak keganjilan. Bibit-bibit kekecewaan perlahan tumbuh. Nidah Kirani merasa apa yang selama ini menjadi obsesinya, dan sedang ia perjuangkan melalui komunitas Jamaah dengan segenap kuasa, mengalami jalan buntu. Perjalanan sucinya sebagai juru dakwah demi tersemainya tetumbuhan syariat seolah berada dalam lorong panjang yang remang.

Semua bermula kala organisasi Islam garis keras yang di dalamnya ia berpayung itu tidak mampu mengakomodasi secara dialogis pandangan-pandangan kritisnya. Kegelisahan filosofisnya ikhwal Tuhan, agama, makna hidup, dan perjuangan politik untuk menegakkan Daulah Islamiyah, yang kerap ia sodorkan lewat berbagai tanya, selelu disambut dengan doktrin Jamaah yang kaku dan membelenggu. Bagi Nidah, dogmatisme Jamaah telah memberangus nalar kritis sekaligus keimanannya. Alhasil, musnah sudah obsesinya untuk berislam secara kaffah melalui Jamaah.

Buah kekecewaan itu lantas ia petik dengan gundah. Nidah Kirani berusaha “kabur” dari perkumpulan agama yang dulu pernah dianggapnya suci itu. Bersama teman-temannya, ia melarikan diri dengan segenap perasaan was-was. Sebab di dalam perkumpulan agama yang ia geluti itu juga berlaku semacam “hukum mafia”: keluar dari Jamaah berarti mengkhianati perjuangan mulia, dan karena itu pula ia bertaruh nyawa. Toh demikian, ia tetap memutuskan untuk hengkang dari perkumpulan Jamaah yang dianggapnya “menyesakkan” itu.

Setelah keluar dari Jamaah, Nidah bertemu seorang aktivis mahasiswa berhaluan kiri, seorang kolega lama yang pernah menjadi teman diskusinya di kampus tempat ia menimba ilmu. Kepadanya ia meminta “suaka batin” atas kegundahannya. Ia bertutur keluh, juga kekecewaannya terhadap Jamaah, hingga keputusannya untuk melarikan diri yang penuh resiko. Kepada aktivis kiri itu pula ia banyak berdiskusi ihwal pergerakan politik mahasiswa. Dan, perasaan kecewa terhadap Jamaah itu sedikit terobati dengan hadirnya sosok aktivis mahasiswa sosialis yang terlihat tangguh dan heroik itu.

Tapi dasar nasib memang nahas. Selang beberapa hari berlindung di naungan aktivis kiri itu, harkat dan martabatnya sebagai perempuan suci ternodai oleh hasrat-birahi aktivis kiri itu. Apesnya lagi, setelah merenggut harga keperempuanan Nidah, laki-laki itu perlahan menghilang dari pandangan matanya, kemudian akhirnya lenyap entah kemana. Syahdan, sempurna sudah drama perjalanan hidup seorang perempuan yang beralur nahas itu.

Dus, Nidah Kirani kini berada dalam anomie. Ia tak lagi punya pegangan hidup. Nilai-nilai agama yang pernah dianggapnya suci dan mulia kini meredup dan terlihat samar-samar di matanya. Sementara beban kejiwaan akibat kesuciannya ternodai menambah pelik persoalan hidupnya. Dalam keadaan seperti itu, Nidah gamang dalam hidup. Ia merasa tak melihat setitik pun “cahaya” yang dapat menerangi perjalanan hidupnya.

Anehnya, Tuhan, yang selama ini jadi pangkalan peraduan terakhirnya, seolah tak mau membahas lagi takdir hidupnya yang nyinyir. Karena itu, tanpa tedeng aling-aling, Tuhan pun ia “telikung”. Bagi Nidah, tak ada alasan untuk mengabdi kepada Tuhan. Tak ada alasan untuk sebuah penyerahan absurd (hlm. 7). Toh, Tuhan sendiri tak pernah mau peduli dengan segala kekecewaan dan keluh-kesahnya.

Dalam keadaan anomie, Nidah terdampar pada sisi kelam tabi’at kehidupan. Buah kekecewaan hidup itu kemudian ia tukar dengan perilaku seks bebas dan kebiasaan menenggak obat-obatan terlarang. Sungguh perjalanan hidup yang dramatis.

Tapi heboh, justru dari pengembaraan seksualnya itulah lalu tersingkap topeng-topeng kemunafikan para aktivis mahasiswa yang kerap meniduri dan ditidurinya. Paradoks, memang! Bukankah mereka, para aktivis yang berhaluan sosialis-kiri maupun yang berpaham Islam-kanan, adalah kelompok yang selama ini lantang meneriakkan dan memperjuangkan tegaknya “moralitas”.

Lebih ironis lagi, terbongkar pula sisi bejat seorang dosen yang bersedia menjadi germo-nya dalam dunia remang komersialisasi pelacuran mahasiswa. Dan lebih menyentakkan nurani, menurut Nidah, dosen itu adalah anggota DPRD dari fraksi yang selama ini bersikukuh memperjuangkan formalisasi syariat Islam.

Tapi, sebagaimana takdir yang memang misterius, hidup ini tidak selalu tunggal makna. Di mata Nidah, seks bebas yang digumulinya bukan sekadar pelampiasan kekecewaan, apalagi penyimpangan moral. Seks bebas ala Nidah merupakan suatu pemberontakan dan penyangkalan eksistensial atas nama kuasa manusia: kuasa seorang perempuan bernama Nidah Kirani untuk melawan otoritas ketuhanan dan institusi agama-moralitas yang kerap disakralkan, padahal sejatinya menyimpan banyak paradoks.

Penyangkalan eksistensial itu nampak jelas sekali dalam ungkapannya: “Tuhan, lihat, lihat…! Lihatlah pemberontakanku, Tuhan! Teruskanlah, laki-laki, biar semuanya tuntas. Teruskan, biar Tuhan menyaksikan sendiri. Teruskan, laki-laki”, selorohnya saat bercinta dengan seorang aktivis kiri (hlm. 127-128).

Petualangan seksual sebagai buah pemberontakan terhadap otoritas keagamaan itu mengantarkan Nidah pada sebuah kesadaran eksistensial. Baginya, seks bebas yang dilakoninya adalah bentuk penundukan atas kuasa laki-laki yang kerap berlindung di balik superioritas partiarkhisme. Lihat saja gumannya saat menghadapi rayuan seorang aktivis gerakan mahasiswa Islam: “… Akan kubongkar dan kululuhkan harga diri lelaki ini. Ah, lelaki, ia kelihatan tegar ketika masih berpakaian. Tapi ketika pakaiannya lepas, terkuak juga kelemahannya, ketololannya. Ternyata, setelah bermain seks, seorang lelaki tidak sekuat seperti apa yang didugakan oleh dunia. Ia tak ubahnya lelaki cengeng yang terus merengek dan meminta untuk menjilati tubuh perempuan, tubuhku. Dan aku beraksi menyempurnakan kehancurannya.” (hlm. 165).

Demikianlah. Perliaku seks bebas dengan latar pelacuran moralitas menjadi pilihan hidup perempuan Muslimah yang pernah merindukan dan merasakan teduhnya naungan agama ini. Tapi, takdir itu telah ia rengkuh. Dan, pilihan untuk melacurkan moralitas akan terus ia “perjuangkan” terutama terhadap siapa pun yang merasa sok beragama.

Meski demikian, dengan berat hati, Nidah harus berucap: “Biarlah aku hidup dengan gelimang api-dosa. Sebab, api-dosa belum tentu langsung membuat hidup manusia menemui titik akhirnya. Terkadang, melalui dosa yang dihikmati, seorang manusia bisa belajar dewasa”.

Saripati kisah Nidah dalam buku ini sungguh kontroversial. Banyak yang tak setuju, tentu saja. Tapi, itulah Nidah! []

Catatan:
Resensi ini dimuat di majalah Medium [Edisi 28, 14-28 Maret 2004]. Kudedikasikan khusus untuk Nidah Kirani, sang tokoh utama dalam buku ini, yang pernah membagi kisah hidupnya kepadaku sebelum buku ini terbit.


DATA BUKU
Judul: Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur!
Penulis: Muhidin M. Dahlan
Penerbit: Melibas, Jakarta
Cetakan: I, Oktober 2003
Ukuran: 11,5 x 18 cm
Tebal: 249 halaman

Tidak ada komentar:

Posting Komentar