30 Oktober 2007

Yang Internasional atau Lokal, Asal Mencerahkan


Tulisan ini bersumber dari majalah An-Nida (Edisi No. 2/XVIII/Oktober 2008), hasil wawancara jurnalis majalah tersebut terhadap saya. Dalam wawancara itu, saya bercerita ihwal penerbit Alvabet, yang selanjutnya dinarasikan secara tertulis dalam rubrik Profil Penerbit di majalah “islami nan gaul” itu.
[Zulkifli Al-Humami]
______________________________


Dunia perbukuan tak akan pernah lepas dari abjad-abjad yang berkumpul membentuk sebuah kata untuk menjadi rangkaian kalimat. Itu pula alasan mengapa dipilih nama “Alvabet” untuk sebuah penerbitan yang didirikan pada 1999 oleh beberapa orang dari eks majalah Ummat—yang memang orang-orang yang sudah akrab dengan dunia tulis-menulis.

“Hampir tidak ada filosofi khusus untuk nama Alvabet yang kami pilih. Hanya saja kami berharap Alvabet akan selalu mewarnai dunia penerbitan Indonesia layaknya “alfabetha” (abjad) yang pasti hadir dan tersebar disetiap buku yang dibaca masyarakat ,” jelas Zulkifli Al-Humami, Editor-in-Chief penerbit Alvabet.

30 Juli 2007

Harus Berbenah Jika Tak Ingin Ditinggalkan


Tulisan ini bersumber dari harian Kompas (Edisi Senin, 09 Juli 2007). Dalam rubrik Pustakaloka, Kompas menulis perihal IKAPI terkait akan dilangsungkannya semacam musyawarah nasional organisasi tersebut. Dalam tulisan itu, saya—atas nama penerbit Alvabet—termasuk sumber yang dimintai komentar ihwal eksistensi IKAPI hingga saat itu.
[Zulkifli Al-Humami]
______________________________


Logikanya, dengan bertambahnya usia, sebuah organisasi akan menjadi semakin maju, matang, dan tentu saja menjadi semakin kuat dan besar. Namun, dalam kenyataannya hal itu sering kali tidak terjadi. Banyak organisasi, baik di bidang bisnis maupun nonbisnis, justru bertumbangan atau mengalami kemerosotan di usianya yang semakin matang.

Ada berbagai hal yang menjadi penyebab, salah satu yang sering terjadi adalah jalannya organisasi sudah mulai tidak sejalan dengan visi dan misi awal pendiriannya. Gejala seperti di atas tampaknya juga mulai menghinggapi dunia penerbitan di Tanah Air. Kendati belum sampai bubar ataupun ditinggalkan anggotanya, eksistensi Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) belakangan ini mulai dipertanyakan stakeholder atau pemangku kepentingannya, dalam hal ini para penerbit.

30 November 2006

Satu Tahun Alfareza Mohammad Neswara

.
aku belum terbangun sepenuhnya
kala sang fajar mulai menyingsing
kini, fajar itu telah pagi
dalam ketidaksadaran
kutatap lamat-lamat sinarnya
nan memesona dan penuh rona
keindahannya memudar
karena aku tak cepat sadar
.
bangunlah, bangunlah…!
seru nurani terus menggurui
ada kehendak untuk tegak berdiri
terpateri kuat di dalam tekad
dan sanubari

30 April 2005

Wawancara dengan Ulil Abshar-Abdalla perihal Jaringan Islam Liberal (JIL)


Bertepatan dengan ulang tahun Jaringan Islam Liberal (JIL) ke-4 pada 9 Maret 2005, saya mewawancarai Ulil Abshar-Abdalla. Topik utamanya seputar refleksi perjalanan komunitas-jaringan ini dalam mengusung gagasan keislaman yang mencerahkan. Wawancara ini dimuat di majalah Medium, Edisi 23 Maret–05 April 2005.
[Zulkifli Al-Humami]
______________________________


Tinju di Ring Demokrasi


Umat Islam Indonesia dibelit kasus struktural sosial-ekonomi. Namun, kaum Muslim liberal tetap bertengger pada pencerahan pemikiran. Belum menyentuh pemberdayaan umat.

Empat tahun sudah usia Jaringan Islam Liberal (JIL) pada 9 Maret 2005 lalu. Walaupun tak pernah mendeklarasikan diri sebagai organisasi massa (ormas), ada kesan bahwa kalangan Muslim liberal ini seperti berada di antara gelombang caci-maki serta puja-puji. Semua itu memberi makna tersendiri, terangkum dalam pengalaman yang beragam. Boleh jadi, persis seperti jargonnya sendiri: “Islam warna-warni.”

Banyak hal yang dicapai, terutama kegigihannya mengobrak-abrik pakem lama pemikiran Islam: al-islam, ad-dien wa ad-daulah, doktrin yang menjadi pangkal gerakan formalisasi syariat Islam. Untuk amar yang satu ini, deformalisasi syariat Islam, komunitas JIL berada di barisan terdepan. Masyarakat harus diberi penyadaran “bahwa syariat Islam sesungguhnya mengandung banyak masalah yang kompleks,” ujar Ulil Abshar-Abdalla, Koordinator JIL.